Tabuh Kentongan, Rektor UNIRA Resmi Lepas ‘Pasukan’ Penguat Ekosistem Wisata ke 10 Kecamatan

MALANG – Suara riuh tabuhan kentongan menggema di halaman Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang, menandai dimulainya misi pengabdian ratusan mahasiswa. Rektor UNIRA Malang, H. Imron Rosyadi Hamid, S.E., M.Si., Ph.D., secara simbolis melepas 254 mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Semester Ganjil 2025/2026.

Para mahasiswa yang diibaratkan sebagai “pasukan” penggerak desa ini akan disebar ke 15 desa di 10 kecamatan Kabupaten Malang. Mereka membawa misi besar bertajuk “Penguatan Ekosistem Desa Wisata yang Berdampak dan Berkelanjutan”.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNIRA Malang, Dr. Abdillah Ubaidi Djawahir, S.E., MM., dalam laporannya mengingatkan bahwa momen KKN ini membawa nama baik almamater. Ia menegaskan agar ilmu yang dipelajari di kampus dapat dikonversi menjadi keterampilan yang bermanfaat bagi warga.

“Tentu ini saran penting yang akan mempengaruhi jalan adik-adik ke depan. Ilmu dan pengetahuan akan kita terapkan ke masyarakat. Ini adalah pelatihan dan keterampilan yang harus membawa kemanfaatan bagi kemasyarakatan,” tegas Ubaidillah.

Ia juga menambahkan bahwa program ini harus memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi desa lokasi pengabdian. Setelah pelepasan, mahasiswa akan memasuki masa orientasi di desa untuk kemudian melakukan adaptasi lingkungan.

Dalam sambutannya, Rektor UNIRA Malang, KH Imron Rosyadi, menegaskan bahwa KKN-T tahun ini diarahkan untuk mendorong kolaborasi lintas sektor yang lebih masif. Menurutnya, desa wisata harus dipahami secara utuh sebagai sebuah ekosistem yang kompleks.

“Desa wisata adalah ekosistem yang melibatkan masyarakat, budaya, lingkungan, dan tata kelola berkelanjutan. Jadi, mahasiswa tidak sekadar menjalankan program rutin, tetapi harus menjadi bagian dari solusi,” tegas Rektor.

Hadir dalam pelepasan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Drs. Firmando Hasiholan Matondang, MM., memberikan pembekalan strategis. Ia menekankan bahwa pembangunan desa wisata adalah proses panjang yang membutuhkan ketelatenan.

“Desa wisata tidak terbentuk sehari atau setahun, itu butuh proses hingga 10 tahun. Kita tidak sedang membangun monumen fisik semata, tetapi membangun momentum. Fokus utamanya adalah membangun masyarakat dan SDM-nya agar menjadi lebih baik,” tegas Firmando.

Firmando menyoroti pentingnya peran dunia pendidikan untuk beradaptasi dan memulai perubahan dari hal dasar, seperti isu lingkungan. Mengingat Malang kerap dilanda banjir, ia meminta mahasiswa menjadi agen perubahan perilaku, terutama soal sampah.

“Membangun desa wisata bukan hanya infrastruktur, tapi bangun pemikirannya. Edukasi masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Mahasiswa harus bisa menyampaikan pesan edukasi ini ke media sosial secara detail, jangan ambigu, agar dampaknya terasa nyata,” tambahnya.

Lebih lanjut, Firmando memaparkan bahwa mahasiswa harus mampu menggali “Tiga Kekuatan” utama untuk menghidupkan desa wisata, yakni: Destinasi (Alam), Seni Budaya, dan Religi.

“Sumber air adalah destinasi, budaya masyarakat dikembangkan, dan nilai religi diperkuat. Saya yakin jika tiga kekuatan ini ada, wisatawan akan merasakan perbedaan yang mendalam. Kami di dinas punya keterbatasan, namun generasi mahasiswa sekarang pasti punya inovasi untuk mewujudkan itu,” pungkasnya.

Prosesi pelepasan mencapai puncaknya saat Rektor, Ketua Yayasan, serta Kadisparbud secara serentak memukul kentongan. Tabuhan ini dimaknai sebagai simbol alarm kesiapsiagaan, kepedulian, dan harmoni sosial dalam membangun desa.

Seluruh rangkaian acara pemberangkatan 15 kelompok KKN-T ini kemudian dipungkas dengan doa yang dipimpin oleh Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Raden Rahmat Malang, KH Dr. Ramadlan Chatib, M.H. Turut hadir menyaksikan momen khidmat tersebut jajaran pimpinan universitas, para dekan, ketua program studi, hingga seluruh dosen pembimbing lapangan (DPL).

Penulis: Liza Ayu Wandira