Isra’ Mi’raj Tahun Ini Berbeda

Sebagaimana agenda tahunan yang jatuh pada tanggal 27 Rajab, umat muslim seluruh dunia memperingati hari isra’ mi’raj. Berbagai acara seremonial seperti ceramah dan kajian banyak diadakan. Isinya setiap tahun kurang lebih sama, menceritakan kronologi kejadian isra’ mi’raj dan hikmah di baliknya.

Tak jarang, penjelasan yang berbau template terulang sepanjang tahun, seperti kalimat “ini adalah kisah yang tak masuk akal” di pembukaan kisahnya, sebagai pemantik antusiasme audien untuk menyimak. Namun fakta berkata lain, tak jarang para jamaah yang hadir malah merasa bosan dengan cerita yang tiap tahun diulang-ulang dengan gaya dan isi yang sama, hanya terkadang penceramahnya saja yang berbeda. Apa yang dirasakan para audien tersebut sebenarnya adalah hal yang wajar. Sudah saatnya penjelasan isra’ mi’raj tahun ini disajikan berbeda.

Jika kita telisik lebih jauh mengenai dalil yang menceritakan hal tersebut, Maka seharunya kalimat pembuka di atas tidaklah terucapkan. Dalil tersebut tak lain adalah surah al-isra’ ayat 1 yang berbunyi:

سُبْحْنَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَا الَّذِي بٰرَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ايْتِنَا إِنَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Mari kita bedah ayat tersebut dari dua perspektif. Pertama, dari disiplin ilmu yang mendasar dalam tata bahasa Arab, yakni nahwu dan shorof.

kata kunci pertama dalam ayat ini adalah Subhaana (سُبْحَانَ). Dalam kitab I’rāb al-Quran al-Karim karya doktor Mahmud Sulaiman Yaqut, kata Subhaana berkedudukan sebagai maf’ul muthlaq yang menunjukkan pensucian mutlak bagi Allah dari segala kekurangan. Penggunaan kata ini di awal ayat memberikan isyarat bahwa apa yang akan diceritakan selanjutnya adalah murni otoritas dan kekuasaan Allah, bukan kemampuan manusiawi.

Selanjutnya, pada kata Asraa (أَسْرَى) menunjukkan bahwa ini adalah kata kerja lampau (fi’il madhi) yang subjeknya (fa’il) kembali kepada الَّذِي (Allah). Dengan demikian, Nabi Muhammad dalam ayat ini diposisikan sebagai objek yang diperjalankan (بِعَبْدِهِ), bukan subjek yang berjalan sendiri. Penambahan kata lailan (لَيْلًا) sebagai keterangan waktu (zharaf zaman) menegaskan bahwa perjalanan luar biasa ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat di sebagian malam saja.

Kedua, dari perspektif teologi. Pemahaman bahwa Allah adalah subjek aktif (Al-ladzi asraa) secara otomatis menggugurkan pernyataan bahwa kisah ini “tidak masuk akal.” Jika subjeknya adalah Allah yang Maha Kuasa, maka hukum fisika dan batasan rasio manusia tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur. Karena jika Allah tunduk pada hukum fisika, semisal, maka ada sesuatu yang mengekang kuasa-Nya, sedangkan hal ini mustahil bagi Allah. Hal ini kemudian dipertegas dengan tujuan perjalanan tersebut yang dinyatakan dalam redaksi setelahnya:

لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا

Yaitu “agar Kami (Allah) perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami”. Ayat ini kemudian ditutup dengan penegasan sifat Allah:

إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Sesungguhnya Allalah Dzat yang maha mendengar (perkataan hamba-Nya) lagi maha melihat tingkah laku dan perbuatannya.

16 Januari 2025
Ilham Alim