MALANG – Transformasi besar-besaran di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singosari mulai mengubah wajah wilayah utara Kabupaten Malang secara drastis. Namun, di balik deru pembangunan infrastruktur yang masif, muncul keresahan dari warga lokal terkait ancaman hilangnya identitas daerah dan rusaknya keseimbangan lingkungan. Infrastruktur Membaik, akan tetapi Kenyamanan memburuk.
Pembangunan yang dipacu oleh status KEK Singosari membawa dampak nyata pada fasilitas publik. Akses jalan kini jauh lebih mulus, fasilitas kesehatan menjamur, dan pilihan institusi pendidikan semakin beragam. Namun, bagi Ananda Rofiatul Amalia, mahasiswi Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) sekaligus warga asli Singosari, kemudahan ini dibarengi dengan menurunnya kualitas hidup dari sisi lingkungan.
“Jujur, kalau ditanya soal nyaman, rasanya sudah jauh berkurang. Dulu Singosari itu tempat kita pulang untuk cari ketenangan dan udara sejuk. Sekarang? Di beberapa titik sudah kayak kota kecil yang sibuk banget. Isinya cuma macet, polusi, sama truk-truk besar yang keluar masuk. Kadang saya merasa asing di rumah sendiri,” ungkap Ananda.
Singosari sebagai proyek strategis nasional, KEK Singosari menjanjikan pembukaan lapangan kerja dan peluang usaha. Usaha kuliner dan kos-kosan memang berkembang pesat, namun warga kurang menikmati hasil dari KEK Singosari karena seperti hal nya korporat dimana yang mempunyai medal besar dia lah pemegang keuntungan.
Ananda menyoroti ketimpangan yang terjadi di lapangan. “Memang benar ada peluang kerja atau usaha baru, tapi kenyataannya banyak warga lokal yang belum dilibatkan secara aktif. Yang menikmati hasil besar itu kebanyakan investor atau pendatang yang modalnya kuat. Kita warga asli malah lebih sering cuma merasakan dampaknya saja, seperti harga tanah yang makin mahal dan lingkungan yang makin sesak.”
Salah satu isu yang paling penting dalam pengembangan KEK adalah pengalihan fungsi lahan. Masyarakat berharap ambisi menjadikan Singosari sebagai pusat teknologi dan wisata modern tidak lantas menghabisi lahan pertanian yang menjadi sumber resapan air dan paru-paru wilayah.
Ananda berharap pemerintah dan pengembang memiliki batas yang jelas dalam melakukan ekspansi. Ia menginginkan konsep pembangunan yang seimbang dan tetap menjaga ciri khas Singosari yang hijau serta bersejarah.
“Saya bukannya anti pembangunan, tapi tolong jangan sampai sawah-sawah kami habis total. Singosari punya identitas sebagai daerah hijau dan bersejarah. Saya ingin pembangunan yang seimbang—boleh modern, tapi ruang hijau dan lahan tani harus tetap ada. Jangan sampai demi kemajuan, kualitas hidup dan ciri khas kami dikorbankan,” tegas mahasiswi UNIRA tersebut.
Keberhasilan KEK Singosari kedepannya tidak seharusnya hanya diukur melalui angka investasi atau kemegahan fisik, melainkan dari seberapa besar warga lokal merasa berdaya dan nyaman di tanah kelahiran mereka sendiri. Harapannya, KEK Singosari mampu tumbuh berdampingan dengan kearifan lokal, bukan justru menggerusnya.
Penulis: Rakanita fitri andhini
Penyunting: Dewi Syarifah
