Mengenal Sesajen Cok Bakal, Tradisi Leluhur di Situs Patirtaan Desa Ngawonggo

Tradisi sajen Cok Bakal di Situs Desa Patirtaan, Desa Ngawonggo, Tajinan, Malang, merupakan warisan leluhur yang memiliki makna spiritual, kultural, dan ekologis. Tradisi ini menghubungkan masyarakat modern dengan peradaban Kerajaan Matam kuno pada abad ke-10 Masehi.

Masyarakat Desa Tajinan pada umumnya masih mempertahankan tradisi pembuatan Cok Bakal sebagai bentuk sajen. Cok Bakal merupakan persembahan yang disusun untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Alas sajen yang disebut encek terbuat dari bambu yang disusun dan dilapisi pelepah pisang. Wadah ini berbentuk daun pisang dan diisi dengan aneka sesajen, seperti: bunga setaman, empon-empon, gula merah, beras, jenang merah, jenang putih, minyak kelapa, tembakau, uang koin, bedak, rokok, kendi, dan injet.

Cok Bakal dibuat untuk keselamatan dan keberkahan dari Tuhan serta perlindungan dari malapetaka. Secara simbolis, tradisi ini bertujuan menghindari musibah dan bahaya agar kehidupan tetap aman dan damai. Cok Bakal melambangkan alam semesta beserta seluruh isinya, menjadi representasi simbol lingga dan linggih Sang Hyang Widhi Wasa. Ia mencerminkan pelinggih Sang Hyang Widhi Wasa yang melambangkan asta aiswarya.

Makna dari setiap sesajen:

  1. Suruh (daun sirih): simbol cinta kasih dan keharmonisan antar-manusia.
  2. Injet: mewakili kekuatan penyembuhan dan perlindungan dari penyakit, sesuai sifat rempah hangatnya.
  3. Cabai, bawang merah, bawang putih: bumbu pedas-pahit melambangkan tantangan hidup yang harus dihadapi dengan ketabahan.
  4. Beras: dasar kehidupan dan kemakmuran, simbol makanan pokok yang menopang masyarakat.
  5. Daun dadap serap: melindungi dari energi negatif, sebagai pasar gaib untuk keselamatan desa.
  6. Gula merah: kemanisan rezeki dan kebahagiaan rumah tangga yang tentram.
  7. Telur: cikal bakal kehidupan (sangkan paraning dumadi), simbol permulaan dari ketiadaan menjadi ada.
    • Makna cangkang: melambangkan la-pisan pelindung luar, seperti material dunia atau jasad manusia yang rapuh, menjaga isi hingga saatnya menetas, mirip perjuangan hidup dalam siklus alam.
    • Makna putih telur: menggambarkan lingkungan pendukung atau jiwa yang menyelamatkan inti, melambangkan kasih sayang, nutrisi, dan proses pertumbuhan spiritual. Ia menghubungkan pelindung luar dengan esensi dalam, seperti udara suci di petirtaan yang membersihkan.
    • Makna kuning telur: sebagai pusat melambangkan benih kehidupan, tujuan suci, atau wahyu ilahi yang menjadi sumber potensi. Hanya dengan perawatan tepat, ia dapat mewujudkan potensi tersebut, selaras dengan ritual harapan kesuburan Jawa.
  8. Jenang merah dan putih: melambangkan keseimbangan duniawi.
  9. Bunga: keindahan dan rasa syukur atas ciptaan Tuhan, khususnya kembang telon untuk ketiga dunia.
  10. Miri (padi liar) dan uang: simbol rezeki alami serta kemurahan hati kepada sesama makhluk.

Penulis: KKN-T kelompok 04